nurbaitillahakun5.blogspot.com/search?q=forex+insurance

Jumat, 24 Mei 2013

Kekurangan Energi Protein (KEP) .ppt


Pengertian Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah Seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya komsumsi energi dan protein dalam makanan sehari – hari atau gangguan penyakit – penyakit tertentu (DEPKES RI,1997)

Silahkan Download pptnya disini KEP.ppt

Selasa, 02 April 2013

Konsep Keselamatan Kerja & Teori Kecelakaan


BAB 1
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Keselamatan kerja merupakan suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani. Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka para pihak diharapkan dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman jika apapun yang dilakukan oleh pekerja tersebut, resiko yang mungkin muncul dapat dihindari. Pekerjaan dikatakan nyaman jika para pekerja yang bersangkutan dapat melakukan pekerjaan dengan merasa nyaman dan betah, sehingga tidak mudah capek.
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dengan menerapkan teknologi pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja, diharapkan tenaga kerja akan mencapai ketahanan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi. Disamping itu keselamatan dan kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan kenyamanan kerja dan keselamatan kerja yang tinggi. Jadi, unsur yang ada dalam kesehatan dan keselamatan kerja tidak terpaku pada faktor fisik, tetapi juga mental, emosional dan psikologi.
Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja telah diatur sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya tidak seperti yang diharapkan. Begitu banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja seperti faktor manusia, lingkungan dan psikologis. Masih banyak perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja. Begitu banyak berita kecelakaan kerja yang dapat kita saksikan.  
B.   Rumusan Masalah
Adapun masalah yang ingin diselesaikan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1)    Pengertian Keselamatan kerja
2)    Tujuan dan ruang lingkup keselamatan kerja
3)    Peranan keselamatan Kerja
4)    Teori kecelakaan kerja
5)    Masalah Dalam Keselamatan Kerja
6)    Solusi pemecahan masalah mengenai konsep dari keselamatan kerja

C.   Tujuan
Adapun tujuan yang ingin kami capai dalam penyusunan makalah ini, selain untuk menambah wawasan kami dalam mata kuliah Kesehatan & Keselamatan Kerja juga untuk memenuhi tugas mata kuliah ini. Serta dapat memberikan masukan dalam pemecahan masalah dalam keselamatan kerja.









BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan, dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan (Sumakmur, 1993).
Keselamatan kerja memiliki sifat sebagai berikut :
a. Sasarannya adalah lingkungan kerja
b. Bersifat teknik.
Pengistilahan Keselamatan dan Kesehatan kerja (atau sebaliknya) bermacam macam ; ada yang menyebutnya Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hyperkes) dan ada yang hanya disingkat K3, dan dalam istilah asing dikenal Occupational Safety and Health.
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya.
Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja
.Pengertian Kecelakaan Kerja (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses.
Dewasa ini pembangunan nasional tergantung banyak kepada kualitas, kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia termasuk praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dari segi dunia usaha diperlukan produktivitas dan daya saing yang baik agar dapat berkiprah dalam bisnis internasional maupun domestik. Salah satu faktor yang harus dibina sebaik-baiknya adalah implementasi K3 dalam berbagai aktivitas masyarakat khususnya dalam dunia kerja.
Pengertian Hampir Celaka, yang dalam istilah safety disebut dengan insiden (incident), ada juga yang menyebutkan dengan istilah “near-miss” atau “near-accident”, adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan dimana dengan keadaan yang sedikit berbeda akan mengakibatkan bahaya terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses kerja.
2.    Peranan keselamatan kerja
Ø  Aspek teknis
Upaya preventif utk mencegah timbulnya resiko kerja
Ø  Aspek Hukum
Sebagai perlindungan bagi tenaga kerja (TK) & orang lain di tempat kerja.
Ø  Aspek ekonomi
Untuk efisiensi
Ø  Aspek social
Menjamin kelangsungan kerja & penghasilan bagi kehidupan yang layak
Ø  Aspek cultural
Mendorong terwujudnya sikap & perilaku yang disiplin, tertib, cermat, kreatif, inovatif, & penuh tanggung jawab.

3.    Tujuan dan Ruang Lingkup Keselamatan kerja
a)    Tujuan dari keselamatan kerja adalah sebagai berikut :
*      Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatanya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
*      Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berasa di tempat kerja.
*      Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efesien.

b)    Sasaran utama maupun ruang lingkup dari keselamatan kerja adalah tempat kerja yang padanya :
Ø  Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin pesawat, alat, perkakas, peralatan atau istalasi yang berbahaya dan dapat menimbulakan kecelakaan, kebakaran atau peledakan.
Ø  Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut, atau disimpan bahan atau barang yang dpat meledak, mudah terbakar, mengigit, beracun, menimbulakan infeksi, bersuhu tinggi.
Ø  Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaranrumah, grdung atau bengunan lainnya termasuk bangunan perairan, saluran atu terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dilakukan pekerjaan persiapan.
Ø  Dilakukan usaha pertanisn, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan, pengolahan kayu atau hasil hutan lainya, peternakan, perikanan dan lapangan kesehatan.
Ø  Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan emas, perak, logam atu bijih logam lainnya, batu-batuan, gas, minyak atau mineral lainnya, baik dipermukaan atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan.
Ø  Dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di daratan melalui terowongan, di permukaan air, dalam air, maupun udara.
Ø  Dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal,perahu, darmaga, dok, stasiun atau gudang.
Ø  Dilakukan penyelaman, pengambilan benda danpekerjaan lain dalam air.
Ø  Dilakuakn pekerjaan dibawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau rendah. 
Ø  Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbuna tanah, kejatuhan, terkena pelanting benda, tejatuh atau terperosok, hanyut atau terpelanting. 
Ø  Dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur atau lobang. 
Ø  Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, uap, asap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran.
Ø  Dilakuakan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah.
Ø  Dilakukan pendidikan dan pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset yang emnggunakan alat teknis. 
Ø  Dibangkitkan, diubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan listrik, gas, minyak atu air. 
Ø  Dilakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang berbahaya. 

4.    Teori Kecelakaan
1.      Teori Heinrich ( Teori Domino)
Teori ini mengatakan bahwa suatu kecelakaan terjadi dari suatu rangkaian kejadian . Ada lima faktor yang terkait dalam rangkaian kejadian tersebut yaitu : lingkungan, kesalahan manusia, perbuatan atau kondisi yang tidak aman, kecelakaan, dan cedera atau kerugian   ( Ridley, 1986 ).



2.      Teori Multiple Causation
Teori ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kemungkinan ada lebih dari satu penyebab terjadinya kecelakaan. Penyebab ini mewakili perbuatan, kondisi atau situasi yang tidak aman. Kemungkinan-kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut perlu diteliti.
3.      Teori Gordon
Menurut Gordon (1949), kecelakaan merupakan akibat dari interaksi antara korban kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan, dan lingkungan yang kompleks, yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan mempertimbangkan salah satu dari 3 faktor yang terlibat. Oleh karena itu, untuk lebih memahami mengenai penyebab-penyebab terjadinya kecelakaan maka karakteristik dari korban kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan, dan lingkungan yang mendukung harus dapat diketahui secara detail.
4.      Teori Domino terbaru
Setelah tahun 1969 sampai sekarang, telah berkembang suatu teori yang mengatakan bahwa penyebab dasar terjadinya kecelakaan kerja adalah ketimpangan manajemen. Widnerdan Bird dan Loftus mengembangkan teori Domino Heinrich untuk memperlihatkan pengaruh manajemen dalam mengakibatkan terjadinya kecelakaan.
5.      Teori Reason
Reason (1995-1997) menggambarkan kecelakaan kerja terjadi akibat terdapat “lubang” dalam sistem pertahanan. Sistem pertahanan ini dapat berupa pelatihan-pelatihan, prosedur atau peraturan mengenai keselamatan kerja.
6.      Teori Frank E. Bird Petersen
Penelusuran sumber yang mengakibatkan kecelakaan . Bird mengadakan modifikasi dengan teori domino Heinrich dengan menggunakan teori manajemen, yang intinya sebagai berikut:
a.      Manajemen kurang control
b.      Sumber penyebab utama
c.      Gejala penyebab langsung (praktek di bawah standar)
d.      Kontak peristiwa ( kondisi di bawah standar )
e.      Kerugian gangguan (tubuh maupun harta benda)

5.    Masalah dalam Keselamatan Kerja
keselamatan kerja sudah dianggap penting dalam aspek kegiatan operasi namun didalam pelaksanaannya masih saja ditemui hambatan serta kendala-kendala. Hambatan tersebut ada yang bersifat makro ( di tingkat nasional) dan ada pula yang bersifat mikro (dalam perusahaan).
*      Masalah Makro
Di tingkat nasional (makro) ditemui banyak faktor yang merupakan kendala yang menyebabkan kurang berhasilnya program keselamatan kerja antara lain :
ü  Pemerintah
Masih dirasakan adanya kekurangan dalam masalah pembinaan (formal & non formal), bimbingan (pelayanan informasi, standar, code of pratice), pengawasan (peraturan, pemantauan / onitoring serta sangsi terhadap pelanggaran), serta bidang-bidang pengendalian bahaya.

ü  Teknologi
Perkembangan teknologi perlu diantisipasi agar bahaya yang ditimbulkannya dapat diminimalisasi atau dihilangkan sama sekali dengan pemanfaatan ketrampilan di bidang pengendalian bahaya
ü  Sosial Budaya
Adanya kesenjangan sosial budaya dalam bentuk rendahnya disiplin dan kesadaran masyarakat terhadap masalah keselamatan kerja, kebijakan asuransi yang tidak berorientasi pada pengendalian bahaya, perilaku masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti terhadap bahaya-bahaya yang terdapat pada industri dengan teknologi canggih serta adanya budaya “santai” dan “tidak peduli” dari masyarakat.
Faktor-faktor diatas ini akan ikut menentukan bentuk dan mutu penanganan usaha keselamatan di perusahaan.
*      Masalah Mikro
Masalah yang bersifat mikro yang terjadi di perusahaan antara lain terdiri dari
ü  Kesadaran, dukungan dan keterlibatan.
Kesadaran, dukungan dan keterlibatan manajemen operasi terhadap usaha pengendalian bahaya dirasakan masih sangat kurang. Keadaan ini akan membudaya mulai dari lapis bawah sehingga banyak para karyawan memilki kesadaran keselamatan yang rendah, disamping itu pengetahuan mereka terhadap bidang rekayasa dan manajemen keselamatan kerja juga sangat terbatas.
ü  Kemampuan yang terbatas dari petugas keselamatan kerja.
Kemampuan petugas keselamatan kerja dibidang rekayasa operasi, rekayasa keselamatan kerja, manajemen pengendalian bahaya dirasakan sangat kurang sehingga merupakan kendala diperolehnya kinerja keselamatan kerja yang baik. Akibat daripada kekurangan ini terdapatnya kesenjangan antara makin majunya teknologi terapan dengan dampak negatif yang makin tinggi dengan kemampuan para petugas keselamatan kerja dalam mengantisipasi keadaan yang makin berbahaya.
ü  Standard, code of practice
Masih kurangnya standard-standard dan code practice di bidang keselamatan kerja serta penyebaran informasi di bidang pengendalian bahaya industri yang masih terbatas akan menambah memperbesar resiko yang dihadapi.
6.    Solusi Pemecahan Masalah
Adapun solusi yang kami sarankan terhadap permasalahan-permasalahan yang masih terjadi dalam hal keselamatan kerja yaitu :
*      Agar pemerintah selaku pimpinan pusat yang memberikan pengruh besar terhadap produktifitas para pekerja lebih meningkatkan pembinaan (formal dan non formal), bimbingan (pelayanan informasi, standar, code of pratice), pengawasan (peraturan, pemantauan / onitoring serta sangsi terhadap pelanggaran), serta bidang-bidang pengendalian bahaya.
*      Perkembangan teknologi perlu diantisipasi agar bahaya yang ditimbulkannya dapat diminimalisasi atau dihilangkan sama sekali dengan pemanfaatan ketrampilan di bidang pengendalian bahaya
*      Membrikan masukan atau pandangan kepada pekerja akan pentingnya asuransi kesehatan maupun kecelakaan kerja
*      Memberikan pelatihan kepada pekerja dalam bidang rekayasa operasi teknologi agar dapat melakukan pengendalian bahaya.


















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1)    Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya.
2)    Peranan keselamatan kerja yaitu, Aspek teknis, Aspek Hukum, Aspek ekonomi, Aspek social, Aspek cultural
3)    Tujuan dari keselamatan kerja adalah sebagai berikut :
*      Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatanya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
*      Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
*      Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efesien
4)    Teori Kecelakaan Kerja yaitu, Teori Heinrich ( Teori Domino), Teori Multiple Causation, Teori Gordon, Teori Domino terbaru, Teori Reason, Teori Frank E. Bird Petersen
5)    Masalah dalam keselamatan kerja yakni, masalah makro (pemerintah, teknologi, dan social budaya) dan masalah mikro (Kesadaran, dukungan dan keterlibatan, Kemampuan yang terbatas dari petugas keselamatan kerja, dan Standard, code of practice)
Saran
Agar kiranya pemerintah maupun pimpinan perusahaan yang bergerak dibidang swasta agar lebih memberikan perhatian khusus terhadap para karyawan atau para pekerja dalam hal keselamatan dan memberikan rasa aman dalam bekerja. Dalam hal ini para pekerja akan merasa nyaman dalam menjalankan tugasnya sehingga memberikan pengaruh yang yang baik terhadap hasil yang akan dicapai oleh perusahaan tempatnya bekerja.















REFERENSI
Suma’mur, 2009, hygiene perusahaan dan kesehatan kerja(hyperkes).sagung seto. Jakarta

Jumat, 29 Maret 2013

macam-macam bentuk obat & tujuan penggunaannya

Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya



Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai berikut:

a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.

b. Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.

c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.
  • Tablet Kempa : paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan.
  • Tablet Cetak : dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan.
  • Tablet Trikurat : tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
  • Tablet Hipodermik : dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
  • Tablet Sublingual : dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.
  • Tablet Bukal : digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
  • Tablet Efervescen : tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.
  • Tablet Kunyah : cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.

d. Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.

e. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
  • Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
  • Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
  • Lebih enak dipandang
  • Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
  • Mudah ditelan.

f. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).

g. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.

h. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.

i. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari.

j. Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.

k. Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 900 C selama 15 menit.

l. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat kuman/virus/antigen.

m. Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.

n. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan pengobatan yaitu:
  • Penggunaan lokal >> memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.
  • Penggunaan sistemik >> aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.

o. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).

p. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.

Jumat, 01 Maret 2013

ASUHAN KEPERAWATAN LEUKIMIA

1. KONSEP DASAR MEDIS
1.1 Pengertian
(1) Leukemia adalah proliferasi patologin dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir dengan fatal. Leukemia dikatakan penyakit darah yang disebabkan terjadinya kerusakan pada pabrik pembuatan sel darah yaitu pada sum-sum tulang (Ngastiyah, 1997 : 381)
(2) Leukemia : proliferlasi sel darah putih yang masih teratur dalam jaringan pembentuk darah (Suriadi, 2001 : 175)


1.2 Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
(1) Faktor genetik
(2) Radiasi
(3) Obat-obat imunosupresif, obat-obata karsinogenik
(4) Faktor heredifer
(5) Kelainan kromososm


1.3 Patofisiologi
Adanya proliferasi sel kanker sehingga sel kanker bersaing dengan sel normal untuk mendapatkan nutrisi dengan cara infiltrasi sel normal digantikan dengan sel kanker. Dengan adanya sel kanker akan terjadi depresi sumsum tulang yang akan mempengaruhi eritrosit, leukosit, faktor pembekuan dan jaringan meningkat karena adanya depresi dari sumsum tulang maka produksi eritrosit menurun dan terjadi anemia, produksi leukosit juga menurun sehingga sistem retikoloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi yang manifestasinya berupa demam. Faktor pembekuan juga mengalami penurunan sehingga terjadi perdarahan yang akan menimbulkan trombositopenia. Dengan adanya pergantian sel normal oleh sel kanker terjadi infiltrasi ekstra medular sehingga terjadi pembesaran limpa, lifer, nodus limfe dan tulang sehingga bisa menimbulkan nyeri tulang dan persendian. Hal tersebut juga akan mempengaruhi SSP (sistem saraf pusat) yakni adanya infiltrasi SSP sehingga timbullah meningitis leukemia, hal tersebut juga akan mempengaruhi metabolisme sehingga sel akan kekurangan makanan
Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut :

1.4 Klasifikasi

Berdasarkan morfologi sel terdapat 5 golongan besar leukemia sesuai dengan lima macam sistem dalam sumsum tulang yaitu :
1. Leukemia sistem eritropoitik : mielosis, eritremika.
2. Leukemia sistem granulopoitik : leukemia granulosit.
3. Leukemia sistem trombopoitik : leukemia megakarlosit.
4. Leukemia sistem limfopoitik : leukemia megakarlosit.
5. Leukemia RES : retikulo endoteliosis / retikolosis.


1.4.1 LEUKEMIA LIMFOSITIK AKUT
1. Penyebab
LLA lebih sering dijumpai pada anak usia 3-5 tahun, dan lebih sering terjadi pada anak laki-laki dari pada perempuan.
Sampai sekarang penyebabnya belum diketahui, diduga karena virus (virus onkogenik). Faktor lain yang berperan :
1.1 Faktor eksogen : sinar X, sinar radio aktif, hormon, bahan kimia (benzol, arsen, preparat sulfat), infeksi (virus, bakteri)
1.2 Faktor endogen : ras (orang Yahudi mudah menderita LLA), faktor konstitusi seperti kelainan kromosom (sindrom down), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus leukemia pada kembar satu telur)
2. Gejala Klinis
2.1 Gejala khas : pucat, panas, perdarahan, splenomegali, hepatomegali, limfadenopati.
2.2 Gejala tidak khas : sakit sendi / sakit tulang.
2.3 Gejala lain : lesi purpura pada kulit.
3. Pemeriksaan Laboratorium
3.1 Darah tepi : Adanya pensitopenia, limfositosis yang kadang-kadang menyebabkan gambaran darah tepi monoton terdapat sel blast, yang merupakan gejala patogonomik untuk leukemia
3.2 Sum-sum tulang : Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran yang monoton yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesak (apabila sekunder). (Ilmu Kesehatan Anak :145)
4. Pemeriksaan lain
4.1 Biopsi limpa
4.2 Kimia darah
4.3 Cairan cerebrospinal
4.4 Sitogenik
5. Pengobatan
5.1 Transfusi darah bila Hb kurang dari 6 g/dl
5.2 Kortikosteroid
5.3 Sistostatika
5.4 Imunoterapi
5.5 Infeksi sekunder dihindarkan (isolasi)
1.4.2 LEUKEMIA LIMFOSITIK KRONIK (LLK)
1. Insiden
Lebih sering pada laki-laki dan ditemukan pada umur kurang dari 40 tahun. Pada usia 60 tahun ke atas insiden tinggi.
2. Gejala klinis
Limfodenopati, splenomegali, hepatomegali, anemia hemolitik, trombositopenia.
3. Pemeriksaan Lab
3.1 Darah tepi : limfositosis 50.000/mm.
3.2 Sum-sum tulang : adanya infiltrasi merata.
4. Pengobatan
Clorambucil dan kortikosteroid.


1.4.3 LEUKEMIA MIELOBLASTIK AKUT (LMA)
1. Insiden
Lebih sering ditemukan pada usia dewasa (85 persen) daripada anak-anak (15 per sen) dan lebih sering pada laki-laki.
2. Gejala klinis
Rasa lelah, pucat, nafsu makan menuurn, nyeri tulang, pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran kelenjar mediastrium, anemia ptekie, perdarahan, infeksi.


1.4.4 LEUKEMIA GRANULOSITIK KRONIK (LGK)
1. Pengertian
Suatu penyakit mielopoliferatif yang ditandai dengan produksi berlebihan dari sel granulosit yang relatif matang.
2. Gejala Klinis
Rasa lelah, penurunan berat badan, rasa penuh di perut, splenomegali.
3. Pemeriksaan Lab
3.1 Leukosit lebih dari 50.000/mm
3.2 Trombositopenia
3.3 Kadar fosfatose alkali leukosit rendah
3.4 Kenaikan kadar vitamin B16 dalam darah
3.5 Sumsum tulang : hiper seluler dengan peningkatan jumlah megalicitiosil dan aktivitas granulopolsis.
1.5 Manifestasi Klinik
Pilek, pucat, lesu, mudah terstimulasi, demam, anoreksia, BB menurun, ptechiae, nyeri tulang dan persendian, nyeri abdomen, limfadenopati, hepatoslenomegali.


1.6 Pemeriksaan Diagnostik
(1) Pemeriksaan darah tepi
Berdasarkan pada kelainan sumsum tulang gejala yang terlihat pada darah tepi berupa adanya ponsitopenia, limfositosis yang menyebabkan darah tepi monoton dan terdapat sel blast.
(2) Kimia darah
Asam urat meningkat hipogamaglobinemia
(3) Sumsum tulang
(4) Biopsi limpa
Memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari jaringan limfe yang terdesa seperti : limfosit normal, RES.
(5) Cairan serebrospinalis
Terdapat peninggian jumlah sel patologis dan protein
(6) Sitogenik
Menunjukkan kelainan kromosom yaitu kromosom 21 (kromosom Philadelphia atau Phi)


1.7 Penatalaksanaan
(1) Medik
(1) Tranfusi darah
Biasanya diberikan jika kadar Hb kurang dari 6 gram %
(2) Kartikosteroid
(3) Sitostatika
Diberikan metotreksat atau MTX 2 minggu / kg BB secara intrafekal 3x seminggu 6-Merkaptopurin atau 6-MP setiap hari dengan dosis 65 mg/m2 luas permukaan badan.
(4) Infeksi sekunder dihindarkan
(5) Imunoterapi
(2) Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan umunya sama dengan pasien lain yang menderita penyakit darah. Tetapi karena prognosis pasien pada umumnya kurang menggembirakan (sama sepeti kanker lainnya) maka pendekatan psikososial harus diutamakan. Yang perlu diusahakan ialah ruangan yang aseptik dan cara bekerja yang aseptik pula. Sikap perawat yang ramah dan lembut diharapkan tidak hanya untuk pasien saja tetapi juga pada keluarga yang dalam hal ini sangat peka perasaannya jika mengetahui anaknya.


2. KONSEP DASAR ASKEP
2.1 Pengertian
1) Biodata
Terutama menyerang usia 3-4 tahun.
2) Riwayat penyakit
(1) Keluhan utama
Pucat, panas
(2) RPS
Pucat mendadak disertai panas dan perdarahan.
(3) RPD
- Antenatal : ibu menderita leukemia
- Natal : -
- Post natal : -
3) Activity Daily Life
(1) Nutrisi
Nafsu makan hilang, penurunan BB
(2) Eliminiasi
Terjadi konstipasi dan diare
(3) Istirahat
Sering tidur
(4) Aktivitas
Lemas, lelah, nyeri sendi
(5) Personal hygiene
Terganggu


2.2 Pemeriksaan
1) Umum
(1) Kesadaran : composmentis sampai koma
(2) Tekanan darah : hipotensi
(3) Nadi : takikardi dan filiformis
(4) Suhu : demam sampai dengan hiperpireksia
(5) Pernafasan : takipnea sesak nafas
2) Fisik
(1) Kepala
- Wajah : pucat
- Mata : conjungtiva pucat, perdarahan retina, pupil odema
- Hidung : epitaksis
- Mulut : gusi berdarah, bibir pucat, hipertropi gusi, stomatitis
- Leher : pembesaran kelenjar gejah bening, faringitis
- Dada : nyeri tekan pada tulang dada, terdapat efusi pleura




- Abdomen : hepatomegali, spenomefali, limfodenopati
- Skeletal : nyeri tulang dan sendi
- Integumen : purpura, ekimosis, ptekie, mudah memar
3) Penunjang
(1) Pemeriksaan darah tepi
Berdasarkan pada kelainan sumsum tulang gejala yang terlihat pada darah tepi berupa adanya ponsitopenia, limfositosis yang menyebabkan darah tepi monoton dan terdapat sel blast.
(2) Kimia darah
Kolesterol mungkin rendah, Asam urat meningkat, hipogamaglobinemia
(3) Pemeriksaan Sumsum tulang
Pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran yang monoton yaitu hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesa (aplasia sekunder)
(4) Biopsi limpa
Memperlihatkan proliferasi sel leukemia dan sel yang berasal dari jaringan limfe yang terdesa.
(5) Cairan serebrospinalis
Terdapat peninggian jumlah sel patologis dan protein
(6) Sitogenik
Menunjukkan kelainan kromosom yaitu kromosom 21 (kromosom Philadelphia atau Phi)
2.3 Kemungkinan Diagnosa Keperawatan yang Muncul
1) Resiko infeksi sehubungan dengan ketidakefektifan sistem imun
2) Intoleran aktivitas sehubungan dengan gangguan transpor oksigen skunder terhadap berkurangnya jumlah sel darah merah.
3) Resiko injury sehubungan dengan ketidakadekuatan faktor pembeku (platelet).
4) Kecemasan sehubungan dengan ketidakadekuatan dengan diagnosa baru dan rencana perawatan.


2.4 Rencana Keperawatan
1) Diagnosa 1
Tujuan : mencegah terjadinya infeksi
(1) Kriteria hasil
· Menunjukkan tidak ada tanda-tanda infeksi.
· Suhu 365o – 374oC
· Kultur darah (-)
· Tidak ada tanda infeksi dalam pemeriksaan fisik.
(2) Intervensi
· Monitor TTV tiap 4 jam, jangan memakai termometer rectal.
R/ deteksi dini terhadap infeksi dan menjaga keadaan mukos rectal.
· Cegah konstipasi da prosedur invasi jaringan, melakukan injeksi IM, SC, IV.
R/ mencegah perdarahan.
· Ambil darah melalui ibu jari tidak dengan jarum suntik.
R/ mencegah perdarahan.
· Inspeksi kulit setiap hari pada daerah yang rusak.
R/ kulit yang sempurna sebagai pertahanan pertama melawan serangan organisme.
· Inspeksi rongga mulut apakah ada candida dan kerusakan pada lapisan mukosa oral.
R/ kesehatan mukosa oral adalah sebagai pertahanan melawan serangan organisme.
· Instruksi keluarga tentang tanda infeksi dan langkah yang diambil jika ada dugaan infeksi.
R/ keluarga kooperatif dan mampu melakukan tindakan terhadap pencegahan infeksi.
· Beri semangat untuk hggiene oral.
R/ kebersihan oral yang buruk merupakan medium utama untuk pertumbuhan organisme.


2) Diagnosa 2
Tujuan : Aktifitas anak menjadi meningkat
(1) Kriteria hasil
· HR, keseimbangan cairan sesuai unsur
· Keluarga atau anak mengerti tanda-tanda anemia dan penyebab
· Membentuk ADL yang tepat tanpa bantuan
(2) Intervensi
· Kaji HAR dan urine tiap 4 jam
R/ memonitor transpor oksigen dalam toleransi kegiatan.
· Diskusikan dengan orang tua / anak tanda anemia dan tindakan pilihan.
R/ orang tua kooperatif dan mampu melakukan tindakan pilihan.
· Berikan transfusi RBC
R/ menormalkan jumlah sel darah merah dan kapasitas oksigen.
· Susunlah periode istirahat
R/ memberikan energi untuk penyembuhan dan regenerasi sel.
3) Diagnosa 3
Tujuan : Mencegah injury yang berkelanjutan
(1) Kriteria hasil
· Menunjukkan tidak ada tanda-tanda perdarahan dalam prosedur RS.
· Mempunyai pergerakan perubahan sehari.
· Bebas injury dan lingkungan yang bebas.
· Orang tua / anak secara verbal mengenal tindakan yang diperlukan ketika jumlah platelet turun.
(2) Intervensi
· Monitor jumlah platelet.
R/ mencegah terjadinya perdarahan.
· Inspeksi faeces, gusi, emesis, sputum, sekret nasal.
R/ mengetahui adanya persarahan sebagai tanda-tanda tromvositopenia.
· Minimalkan / hindari prosedur invasi.
R/ mengurangi kerusakan integritas mulut yang memungkinkan terjadinya infeksi.
· Cegah konstipasi
R/ mencegah kerusakan mukosa anus sehingga mengurangi resiko infeksi.
· Sediakan lingkungan yang aman
R/ lingkungan yang aman akan menurunkan resiko spontan perdarahan bila anak mengalami trombositopenia.
· Instruksikan pada klien untuk memodifikasi kegiatan yang tepat untuk meminimalkan resiko trauma.
R/ diagnosa keperawatan tidak bosan dan terhindar dari injury.


4) Diagnosa Keperawatan 5
Tujuan : Mengurangi terjadinya kecemasan
(1) Kriteria hasil
· Orang tua mengungkapkan secara verbal tentang diagnosa
· Orang tua ikut serta dalam rencana pelaksanaan.
· Orang tua memikirkan spesifik untuk pelaksanaan perawatan.
(2) Intervensi
· Buatkan orang tua diagnosa dan tindakan dengan teratur.
R/ orang tua mengerti dan kooperatif dalam tindakan.
· Perkenalkan keluarga kepada keluarga lain di mana anak mereka mempunyai diagnosa sama dan terapi yang sama.
R/ antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain bisa saling tukar menukar informasi tentang penyakit yang diderita anaknya.
· Perkuat secara verbal rencana setiap hari.
R/ keluarga kooperatif dalam tindakan keperawatan.
· Berikan tulisan dan verbal tentang instruksi tindakan yang dilakukan di rumah.
R/ melanjutkan intervensi.




2.5 Implementasi
Pada tahap pelaksanaan merupakan kelanjutan dari rencana keperawatan yang telah ditetapkan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal, pelaksanaan adalah wujud dari tujuan keperawatan pada tahap perencanaan.


2.6 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap dimana tahap proses keperawatan menyangkut pengumpulan data obyektif dan subjektif yang dapat menunjukkan masalah apa yang terselesaikan, apa yang perlu dikaji dan direncanakan, dilaksanakan dan dinilai apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum, sebagian tercapai atau timbul masalah baru.


DAFTAR PUSTAKA

Arif Mansjoer dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi I, Jilid III. Jakarta : Media Aesculapius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
UPF IKA RSUD Dr. Soetomo, 1998.